Meet Rhododhendron In Love’s Writer

Meet Rhododhendron In Love’s Writer

Kemarin sore aku mengunjungi Sekolah Diponegoro, sekolah nan sepi nan teduh ini kusambangi sambil melihat keadaan sekeliling. Pelan-pelan kemudian kumasuki ruang 106, untuk menemui penulis Rhododhendron in Love.

Seperti teman lama yang tidak pernah ketemu kami kemudian saling bercerita tentang impian kita merajut kata dalam perkamen hingga menjadi sebuah novel. Hanya saja beberapa cara pandang kami sedikit berbeda. Beliau yang mengaku sudah empat puluh tahun memiliki guratan harap yang tersirat dalam wajahnya. Ada keinginan yang kuat yang menggema di dalam dada tentang Nepal.

Sebuah negara yang menjadi banyak destinasi favorit para backpacker di seluruh dunia. Di antara sekian banyak tempat destinasi tempat di Indonesia, sosoknya mungkin terlihat aneh di mata rekan-rekannya. Bagi orang lain, sosok penulis ini seperti tidak mencintai negaranya sendiri.

Sembari matanya berkaca, kuperhatikan dengan seksama apa maksud pesan yang ingin disampaikan beliau….

Dengan sedikit berat, ia kemudian bertanya, “apakah salah kalau saya mencintai negara lain?”

Aku termenung sesaat, kemudian aku hanya bisa berkata tidak ada yang salah mencintai sesuatu yang kita sukai, toh banyak orang luar negeri yang mencintai budaya dan bangsa kita, apakah salah ketika kita melakukan hal sebaliknya?

Dari sini kemudian sebuah proses pemahaman terjadi. Aku mulai mengerti mengapa seseorang bisa begitu mencintai sesuatu dengan tulus. Dan hari ini aku melihat jawaban dari Sang Penulis Rhododhendron.

Ia begitu mencintai Nepal, karena ia sudah lama memimpikan untuk tinggal dan hidup di sana. Sebuah surga dunia kecil kemudian di bangun dan terpatri kuat di hati dan pikirannya hingga tujuan hidupnya hanya satu, Nepal….

Apakah ini salah? Entahlah, aku tidak tahu bagaimana pendapatmu sobat…. Satu hal bagiku ini bukan kesalahan fatal ketika engkau mencintai yang bukan hakmu. Ini masalah cara pandang melihat dari sudut mana cinta itu lahir.

Ia lahir dari benih hati dan pikiran yang engkau tanam. Ketika engkau memberinya dengan mimpi dan lantunan doa, ia laksana pupuk dan air yang membuat semuanya menjadi besar. Itulah cinta yang tulus, yang terlihat jelas di matanya….

Ahh ini semua mengingatkanku pada spirit Patriot Cahaya yang telah selesai kubuat, tidak ada yang salah dalam mencintai selama engkau tidak merebut sesuatu dan tidak melebihi garis norma yang ada. Tetap berjalan menuju terang dengan cahaya ketulusan yang ada dalam diri, itulah Patriot Cahaya….

-Senda-
Penjejak Cahaya
Diposkan oleh Dunia Patriot Cahaya di 11:02
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBerbagi ke Google Buzz
Label: Meet Writer, Penjejak Cahaya Said

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s