GADIS MANIS DI VILLA 61

Jam sudah menunjukkan pukul 03.00 dini hari. Namun mata Mika tak juga terpejam. Tidurnya gelisah. Ia miringkan badannya untuk mengubah posisi tidur. Siapa tahu ia tak bisa tidur gara-gara itu. Tidak juga. Ia membolak-balikan badannya. Bayangan gadis itu terus memenuhi kepalanya. Ia tak tahu perasaan apa namanya. Yang jelas rasa itu persis sama seperti yang Mika rasakan dua tahun lalu bersama Noni. Ya, Noni yang kini sudah pergi jauh. Dan Mika tak ingin mengingatnya kembali saat-saat itu. Sangat menyakitkan hati. Bahkan janjinya, ia tak kan mau lagi mengenal gadis manapun juga.

Tapi kali ini lain. Ia berubah. Bukan lagi Mika yang dulu. ”Loe kenapa, Mik!, tanya Dito. Yang ditanya malah bengong. ”Mik, ceritalah ke kita-kita. Itu kalo kamu masih nganggep kita ini temen loe”. Memang nggak biasanya Mika pendiem. Mereka tahu, Mika itu orangnya care banget. Tapi sudah hampir seminggu ini Mika lain dari biasanya.

Sore itu langit cerah. Mereka baru tiba dari Jakarta. Rencananya mereka bertiga ingin menghabiskan liburan semesternya di villa milik Papa Mika. Sudah yang ketiga kalinya mereka berlibur di tempat ini. Villa keluarga Mika sangat luas. Fasilitasnya pun lengkap. Ada lapangan untuk olah raga. Lumayan, walaupun tak terlalu besar cukup untuk bermain basket dan sepak bola bersepuluh. Sebelah kanan villa, ada kolam renang yang cukup luas. Sebenarnya villa ini memang diperuntukkan buat Mika. Tapi itu nanti. Maksud Papa Mika, akan diberikan kepadanya jika Mika sudah dewasa. Keluarga Hadi, papa Mika semuanya tinggal di Jakarta. Yang menunggu villa ini dari dulu Bi Narmi dan keluarganya yang sudah dianggap keluarga sendiri oleh Papa Mika.

Villa itu terletak di lereng gunung Lawu yang sekitarnya banyak dikelilingi oleh kebun teh. Villa ini dibuat baru lima tahun lalu.
Tidak banyak villa yang didirikan di daerah tersebut. Tidak sepadat kawasan Puncak. Dan salah satu di antaranya begitu menarik perhatian Mika. Villa no 61 yang berdiri megah di ujung jalan dekat sungai kecil. Raut wajah manis telah merebut hatinya yang selama ini beku. Seketika mencair memenuhi rongga hatinya.

Berawal dari suatu pagi saat Mika lari mengelilingi jalan setapak di antara kebun teh. Ia melewati salah satu villa yang halamannya rimbun penuh dengan berbagai pohon buah-buahan. Tembok pagarnya tinggi. Tetapi bagian tengah tembok terdapat jeruji besi sehingga bagian dalam dari villa itu masih dapat terlihat dari luar. Dan mata Mika tertumbuk pada seorang gadis berambut panjang . Gadis itu sedang membaca buku di kursi teras berwarna putih. Sepertinya ia asyik dengan cerita yang dibacanya.
Mika tertegun. Jantungnya terkesiap. ”Siapa dia?”, batinnya sendirian.

Tak sengaja gadis itu pun memandang ke arah jalanan tempat Mika berdiri terpaku di situ. Mata mereka bersirobok bertemu. ”Ah, dia melihatku”, gumam Mika. Gadis itu tersenyum. Sama seperti Mika.

Dan Mika tak dapat memejamkan mata barang sepicing pun. Hatinya gelisah. Besok ia harus menemui gadis itu. Paling tidak berusaha untuk berkenalan.

”Namaku Sasa”, ia mengulurkan tangannya malu-malu. ”Kamu tinggal di villa yang berwarna biru itu kan?, lanjutnya sambil tangannya menunjuk villa keluarga Hadi. Kening Mika berkerut. ”Kok kamu tahu?”. ”Ya tahu lah”, sahut Sasa. Ternyata Sasa tahu banyak tentang keluarganya. Itu yang membuat Mika semakin ingin mengenali lebih jauh
tentang pribadi Sasa. Gadis itu penuh daya tarik. Dan diam-diam Mika menyukainya.

Sasa mengaku sedang berlibur juga di villa itu. Ternyata ia seperti Mika juga, kelas 2 SMA. Makanya ketika ngomong mereka berdua sangat nyambung. Dan Mika sangat menikmati saat-saat seperti itu. ”Sa, kamu tinggal sama siapa di sini?”, tanya Mika.
”Oo, ada Bi Karni dan Pak Mijo di dalam. Memang kenapa?, jawabnya. ”Nggak. Nggak pa- pa”. Mereka selalu melewatkan setiap hari berdua. Kalau tidak ngobrol di teras depan, mereka asyik membaca buku di bawah pohon rambutan yang banyak tumbuh di halaman villa Sasa. Kebetulan hobby Mika sama dengan Sasa. Lebih kebetulan lagi ternyata Sasa banyak punya koleksi komik dan novel yang bagus-bagus.

”Mik, kayaknya loe udah mulai jatuh cinta deh, sama cewek itu”, kata Willy. ”Tapi kita-kita ngedukung loe kok. Kayaknya Sasa baik banget sama Loe”.
”Cepet jadiin aja, Mik. Keburu orang lain yang nyamber lho…”’ timpal Doni.
”Paling kamu Don, yang nyamber. Kayak nggak tahu kamu aja”’ samber Willy.
”Ya enggak mungkin lah…Masa tega sama temen”.
”Sudah. Sudah. Berisik aja nih. Gua ngantuk. Mau tidur duluan”. Mika ngeloyor pergi meninggalkan mereka berdua.
”Iya deh…yang lagi jatuh hati. Sensi banget….”.

Mika meletakkan lipatan sampul berwarna biru di lipatan buku novel yang dipinjamnya dari Sasa kemarin sore. Ia berjanji akan menemui Sasa dan menyampaikan surat bersampul biru itu kepadanya. Dalam sampul biru itu, Mika menuliskan puisi-puisi cinta dan perasaannya kepada Sasa. Romantis memang. Itulah Mika. Dibalik sosok badannya yang gagah tersimpan perasaan yang lembut. Ia berjanji mulai sekarang akan membuka hatinya untuk Sasa. Gadis manis penghuni villa no 61.

Pagi ini lain dari biasanya. Sedikit mendung, bahkan seperti mau hujan. Tapi Mika tak peduli. Ia sudah berjanji pagi ini mau menemui Sasa untuk mengembalikan novel yang dipinjamnya tiga hari yang lalu. Bukan hanya itu, yang lebih penting lagi Mika bertekad ingin mengutarakan isi hatinya. Bagaimanapun, Sasa telah berhasil mengisi ruang hatinya yang selama ini kosong. Ada warna tersendiri dalam hari-hari Mika.

Sengaja Mika memakai T.Shirt warna kesukaan Sasa, warna biru gelap. Mika tahu itu ketika mereka bercanda berdua di bawah pohon rambutan sambil membaca komik. Mika ingin Sasa tahu bahwa ia punya perasaan khusus untuknya.

Di luar hujan mulai rintik-rintik kecil, tapi tak cukup untuk membasahi badan Mika. Ia berlari-lari kecil menyusuri jalan setapak di antara kebun teh. ”Mudah-mudahan Sasa mau menerimaku”, Aku terlanjur menyukainya”, gumam Mika sendirian.

Ia membayangkan, pasti gadis itu sedang membaca novel kesukaannya. Dan Sasa paling menyukai T-Shirt putih yang dipadu dengan jeans. Walaupun ia katakan pada Mika kalau warna kesukaannya adalah biru gelap. Mika tak peduli itu. Ia berlari sedikit lagi sampai di villa itu.
Langkahnya terhenti.
Ia tertegun. Ada beberapa mobil diparkir di halaman villa putih itu. ”Siapa gerangan?, batinnya. Sejenak Mika ragu. Masuk, enggak. Masuk, enggak. ”Kenapa Sasa tak cerita padaku?. Sepertinya akan ada acara di villa itu”, lagi-lagi Mika berpikir.

Dilihatnya novel berisi sampul biru masih di tangannya. ”Puisi ini harus kuberikan padanya”, Mika tampak agak bingung. Hati kecilnya takut juga jika ia nekad memasuki villa itu. Apalagi ia belum pernah bertemu sekalipun dengan papa Sasa. Walaupun Sasa cerita kalau papanya sangat baik padanya.

Tapi Mika lagi-lagi tak peduli. Entah keberanian apa yang mendorong kakinya untuk melangkah memasuki halaman itu.

”Selamat pagi Om?, sapa hormat Mika pada laki-laki yang sepertinya papa Sasa. Ia hanya mengira-ira karena dilihat sepintas wajah Sasa mirip dengan laki-laki yang kini berdiri di depannya.
”Oh.,pagi juga. Siapa ya?, dahinya berkerut menyiratkan rasa heran.
”Saya Mika Om, teman Sasa”, jawab Mika. Tapi tetap terasa agak gugup ketika ia ditanya begitu.
Laki-laki itu kaget. Terlihat sangat kebingungan. Dan Mika melihat perubahan wajah itu.
”Maaf Om, Sasa ada nggak Om?, tanya Mika. Entah mengapa sepertinya Mika ingin secepatnya menemui gadis itu dan tak ingin berlama-lama ngobrol yang tidak perlu dengan orang yang mirip dengan Sasa ini.

Mika tak sabar. Dilihatnya banyak orang mondar-mandir di halaman villa. Juga di dalam ruangan. Seperti akan ada selamatan. Bukan pesta karena Mika lihat suasananya sangat berbeda dengan pesta-pesta yang lain. Wajah mereka jauh dari berbinar-binar tetapi lebih menyiratkan kedukaan.

”Silakan duduk dulu, Dik!, laki-laki itu mengagetkan Mika.
”Terimakasih Om”, jawab Mika pendek.

Dan hati Mika mulai tak tenang. Ia gelisah. Seperti ada yang tidak beres dengan semuanya. Tak dilihatnya Sasa di antara mereka. Padahal, biasanya Sasa selalu tahu kapan Mika sampai di villa itu. Mika ingat Sasa seakan mempunyai indra ketujuh sehingga ia tahu apa yang akan terjadi. Bahkan perasaan Mika pun ia seolah tahu.

Laki-laki separuh baya yang ternyata memang papa Sasa itu segera memeluk Mika. Erat sekali. Tidak ada kata terucap sepatah pun. Di sampingnya, mama Sasa menangis. Mika tak bisa bernapas karena pelukan papa Sasa terasa sangat erat. Mika tak mengerti.
.Sungguh tak mengerti.
Pelukan itu mengendur. Dilihatnya mata papa Sasa basah. Sudut mata laki-laki itu basah. Air mata seperti hendak tumpah. Sekali lagi Mika dipeluknya. Erat. Mama Sasa juga ikut-ikutan memeluknya.

Mika tak tahu harus bagaimana. Mika lemas. Sampul warna biru dalam novel yang dipegangnya jatuh. Bumi runtuh. Ia menangis….Satu hal yang paling tidak ia sukai. Ternyata, Sasa telah pergi selamanya tiga bulan yang lalu karena penyakit jantung yang diderita. Di villa itu juga. Dan sekarang adalah hari keseratus setelah kepergiannya.

Di luar hujan rintik-rintik membasahi bumi. Dan Mika masih menangis. Untuk yang kedua kali.

Iklan

FREE EDUCATION IN 9 YEARS TO INDONESIAN CHILD AND YOUNG by Anik Damogalad

Indonesia is country of island. There is approximately 17.504 island. But only 6000 island have dweller. How education at there, means in Indonesia?
W ith the people more 230 million, Indonesia need great of human source. To need it, Indonesian of gouverment to purpose program of education thats spread until all people feel it.
To spread opportunity in education, Indonesian gouverment take one of policy about it, that all people, have age 7 to 14 years old have to study. Gouverment prepare of them free education. They can study at Elementary School (Sekolah Dasar/ SD) and Junior High School (Sekolah Menengah Pertama/ SMP). As written in law of Indonesia (Undang-Undang Dasar 1945) that all Indonesian people got same opportunity in education. Because of that, in this program student are no need pay for it. Means, free. Gouverment give them all book also until graduate. Not only student at city but all student at remote area also got it.
To get success this program, Indonesian gouverment take more money. They founding many school, Elementary School and Junior High School at all island and all region, all city to village.
This Free education only can do at gouverment school. If student studying at Private school, they havenot facility from gouverment, means they have to pay and buying book at them school. So, not free.
By this program, all Indonesian children and young can go to school then they can read and write, so they have knowledge. Hope they have critical mind. They became to creative person so they can survive in their life.
But after Junior High School, means in Senior High School, gouverment don’t give free education again. They have to pay if study at there. How much they have to pay at Senior High School? Some school are not same, means fariative, depend where they are studying. If they are studying at good school they need many cost but if they school at level standard they no need much money for study. So, relative.
Substantively, they are no need worry about highly cost of education because gouverment and many company prepare scholarship for good student. But they have request about that, like brilliant, good achievement in academic or non academic or skill as sport, music, or other talent.
Anyway, all Indonesian people can follow this program, wherever they stay, its oke.

VEGETARIAN? MENGURANGI PEMANASAN GLOBAL (Anik Damogalad)

VEGETARIAN?

MENGURANGI PEMANASAN GLOBAL (Anik Damogalad)

Konon, vegetarian ada hubungannya dengan pemanasan global. Kok bisa ya? Jelas bisa karena pemanasan global itu berawal dan terjadi karena banyaknya faktor yang membuat percepatan pemanasan suhu bumi itu sendiri.

Pemanasan global disebabkan oleh banyaknya pemakaian zat2 aerosol yang terdapat dalam parfum atau dalam desinfektan, yang banyak digunakan dalam kehidupan sehari2. Apalagi oleh warga kota yang cenderung ingin semuanya serba cepat tetapi tidak mau menghiraukan dampak yang ditimbulkan yang ternyata lebih hebat dari pada kegunaannya.

Polusi udara juga memberikan sumbangan besar pada percepatan global warming di bumi tercinta ini. Lalu apa hubungannya dengan vegetarian tadi?

Kita tahu bahwa vegetarian, yang orangnya dikenal dengan sebutan VEGIE, adalah seseorang yang hanya mengonsumsi sayur-sayuran saja, atau bahan makan dengan basis tumbuhan. Jadi individu tersebut benar2 tidak mengonsumsi daging apa pun. Termasuk di dalamnya ikan. Secara umum individu itu menghindari mengonsumsi mahkhluk hidup. Apa pun alasannya.

Ajaran agama budha banyak mengajarkan hal itu. Ajarannya lebih kepada bagaimana menghargai keseimbangan lingkungan terutama bagaimana kita hidup berdampingan damai dengan makhluk hidup lain, seperti dengan tumbuhan dan binatang. Di antaranya adalah dengan tidak membunuh atau menyakitinya. Mungkin jika Anda pengikut atau pengagum dari Dalai Lama atau Sang Budha Gautama, kita akan lebih banyak memahami apa hakikat dari hidup ini. Hanya satu: KESEIMBANGAN

Komunitas atau pengikut ajaran Gautama lebih banyak menghindari hewan untuk dikonsumsi sebagai daging. Alasan utamanya sebenarnya adalah karena menghargai keseimbangan kita dengan lingkungan. Karena Tuhan menganugerahkan semua itu untuk hidup berdampingan secara damai.

Hubungannya dengan pemanasan global bisa kita lihat dari proses pemasakannya. Untuk mendapatkan daging yang empuk dan lezat, sesuai dengan cita rasa penikmat masakan itu, diperlukan waktu memasak yang lebih lama jika dibandingkan dengan kalau kita memasak sayuran hijau. Selain alas an itu, juga ada alasan lain yaitu jika banyak binatang yang dijadikan untuk konsumsi manusia maka akan banyak lagi peternakan yang muncul untuk menambah stok daging konsumsi.

Nah, jika ini terjadi maka, lahan yang seharusnya untuk menanam tumbuhan jadi akan tersita lebih banyak untuk peternakan, juga tumbuhan yang seharusnya dibiarkan hijau akan tergerus oleh habisnya tumbuhan itu untuk digunakan sebagai makanan ternak. Ini semua akan mempermudah mata rantai pemanasan bumi agar lebih cepat terjadi. Bahkan tidak lama lagi bumi bisa makin memabara dengan bertambah cepatnya suhu.

Serta kita tahu bahwa adanya tumbuhan di muka bumi ini diharapkan bisa menjaga kelangsungan hidup alam, karena hutan (tumbuhan, red) adalah paru2 bumi. Dengan kata lain satu2nya alat agar bumi ini dapat bernapas dan hidup terus adalah hutan yang terjaga keberadaannya.

Dengan tidak merusak lahan hutan utuk dijadikan lahan ternak yang makin banyak digunakan untuk membuat perbanyakan hewan untuk produksi daging konsumsi manusia, maka semuanya akan terjaga, terutama suhu bumi.

Lalu apa yang kita lakukan untuk semua itu? Menjadi VEGIE? Itu lebih baik dibandingkan dengan kita sebagai penyuka daging. Kita tak akan makan jika tanpa lauk daging? Sepertinya tidak bijaksana. Kita pun dituntut untuk menjaga keseimbangan alam, bukan dengan hal2 besar, cukup hal2 kecil asal kita bisa melakukan dengan baik, maka hal besar secara tidak langsung sudah kita lakukan.