TAHAPAN MENDIDIK ANAK (Anik Damogalad)

Bagaimana mendidik anak yang benar? Banyak cara sebenarnya. Semua guru punya style yang tidak sama, itu pun bergantung kepada siapa kita akan menerapkannya. Tentu saja kita harus mengerti serta memahami bagaimana karakter anak kita terlebih dahulu. Maksudnya mendidik itu ada tahapan2nya. Kita harus mengenal tipe,karakter, atau bagaimana model anak itu sehari-hari. Apakah ia tipe anak pendiam, pemalu, atau pun periang. Itu akan menentukan bagaimana kita menentukan model penanganan terhadap anak tersebut.
Untuk mengatasi satu permasalahan yang terjadi pada anak, kita tidak begitu saja main hantam kromo, langsung atau to the point begitu saja. Kita tetap pada koridor atau batas2 yang harus kita taati. Semua ada tahapan2nya….
Untuk itu sangatlah penting bagaimana kita mengenal karakter seorang anak. Ada anak yang hanya sekali lihat saja sudah mau berubah. Maksudnya, jika ada siswa yang berbuat salah, kita mengingatkan cukup hanya dengan menatap matanya saja. Kita tidak perlu berteriak-teriak atau pun juga main pukul. Sangatlah tidak bijaksana jika kita sampai melakukan hal itu. Apalagi kita seorang guru, segala sesuatunya harus kita pertimbangkan dengan matang.
Ada juga tipe anak yang harus pakai tangan. Maksudnya, kita tidak bisa hanya sekedar manatap matanya atau memberitahu dengan bahasa mereka, dengan bahasa yang mudah dicerna oleh mereka, atau dengan kata lain kita bisa menasihati mereka dengan kalimat yang manis atau dengan kalimat yang menyentuh perasaan dan hati mereka. Nah, jika kita menemukan anak seperti ini, tentu saja penanganannya juga akan berbeda dengan anak yang pertama tadi.
Nah, bagaimana jika kita menemukan anak yang sangat atau super bandel dan susah diatur? Ini namanya pengecualian. Tentu saja penanganannya juga pengecualian pula. Kadang kita tidak cukup dengan hati atau dengan tatapan mata saja untuk mengubahnya. Kita perlu strategi khusus untuk itu. Bukan maksud untuk menganiaya atau apa, tetapi itu semua dilakukan untuk sekedar shock terapi yang untuk kebaikan dia juga. Istilahnya untuk contoh buat yang lain agar tidak melakukan hal yang sama. Apalagi ditambah jika anak tersebut melawan guru, tentu saja untuk menutup mulutnya, kita perlu untuk memukulnya juga. Itu kita lakukan untuk sekedar menutup mulutnya yang terus ngoceh gak karuan.
Sering kita menemui anak seperti itu. Kita menasihati tetapi malah ditanggapi dengan hati dan sikap yang dongkol. Tentu saja itu sangat menyakitkan hati sebagai seorang guru. Kita juga manusia biasa yang punya rasa dan hati. Punya emosi dan pikiran yang normal, punya rasa marah, tersingggung, dan sejuta perasaan lain yang membuat kita bertindak cepat untuk menyelesaikan masalah.
Jadi tetap saja hal itu kita lakukan. Tentu saja setelah kita melalui tahapan-tahapan yang paling halus. Jadi kita tidak langsung memukul anak…..kita melihat juga tingkatan masalah atau kenakalan yang dilakukan olehnya. Jika tingkat kenakalanny tidka terlalu parah, kita pun tidak perlu memukulnya, kita cukup menasihatinya dengan bahasa yang gampang dimengerti.
Setelah semua tahapan itu kita lakukan sedangkan siswa atau anak tidak mau mendengar atau tidak berubah sama sekali,…barulah tahapan yang terakhir kita lakukan juga. Itu adalah puncak dari segala tingkatan tindakan yang masih kita nggap normal dan sah-sah saja. Ingat, bahwa Nabi Muhammad saja boleh memukul anak jika tidak mau sholat apa lagi kita sebagai manusia biasa. Semoga bermanfaat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s