KITA BISA BELAJAR DARI MANA SAJA (by Anik Damogalad)

Seringkali kita merasa apa yang kita ajarkan di depan siswa kita terlalu monoton.  Terkesan itu melulu sehingga membuat siswa yang kita ajar menjadi bosan (atau meminjam istilah mereka, bete katanya ).

 

Sebenarnya ada banyak hal yang dapat kita lakukan untuk menambah pengetahuan sehingga kita tidak sampai kehilangan bahan untuk mengajar. Itu yang membuat kita kaya di depan siswa kita. Mereka tidak  akan bosan dengan kita. Jika itu terjadi dia akan suka dengan pelajaran kita. Kita dapat memadukan antara pengetahuan kita dengan materi ajar kita, sehingga menjadi satu kesatuan yang membuat siswa tertarik untuk mempelajari sesuatu lebih banyak lagi, dan lebih senang lagi.

 

Percayakah kita bahwa dari seorang anak kecil saja kita bisa belajar banyak. Apa yang bisa kita ambil? Kita belajar dari kepolosan dan kejujurannya. Kejujuran  ini lah yang saat ini sulit kita lakukan. Dengan meminjam istilah dari Pak Arif, bahwa bangsa ini perlu belajar banyak dari kejujuran. Dengan kejujuran bangsa ini akan menjadi bangsa yang bermartabat.

 

Jadi belajar itu bukan hanya dari seorang guru saja. Maksudnya belajar tidak harus berada di depan kelas. Jadi, konteks guru di sini adalah seseorang dan sesuatu yang telah memberikan  hal positif yang kita perlukan dan bermanfaat untuk diri kita. Dengan kata lain, ada yang bisa kita pelajari dari diri orang itu, terlepas itu anak kecil atau dewasa, serta siapa pun bisa menjadi guru kita.

 

Bukan hanya dari manusia saja kita bisa belajar. Dari makhluk lain pun kita bisa belajar banyak. Coba tengoklah seekor ayam. Ayam-ayam yang notabene tidak punya pikiran itu selalu terbangun jam 5, bahkan sebelumya ia sudah terlebih dahulu membangunkan kita, para manusia yang saat itu masih terlelap. Batapa hebatnya dia, dan itu selalu dilakukannya setiap pagi. Tanpa absen. Bandingkan dengan kita, bangun pagi saja malasnya minta ampun. Itu baru bangun, belum lagi untuk sholatnya.

 

Belajar dari alam lingkungan, ini yang juga tidak boleh ketinggalan. Alam mengajarkan kepada kita untuk bisa bersikap bijak, menghargai, dan tidak sewenang-wenang. Bagaimana alam memberi kita air yang jernih dengan ikhlas, tetapi tanpa kita sadari kita telah mengotori dengan mencemarinya dengan aneka limbah yang menyesakkan mata. Bukankah tingkah kita ini keterlaluan. Seharusnya ini tidak boleh terjadi.

 

Kita pun bisa  belajar dari buku, maksudnya dengan membaca buku. Melalui buku lah kita bisa banyak tahu. Jadi memang benar kalau buku itu adalah gudangnya ilmu. 

 

Jadi,  guru itu sebenarnya bisa dari mana saja, apalagi sekarang, teknologi begitu canggih, teknologi yang siap memanjakan kita dengan segala informasi. Dengan internet informasi dari mana pun tanpa batas bisa kita akses dengan sangat mudah. Itu adalah ilmu yang tiada tara. Kita tidak akan kehabisan materi untuk mengajar karena sesunggguhnya materi itu bertebaran di mana-mana.

 

Ternyata belajar itu dapat diperoleh dari mana saja. Bahkan tidak terbatas. Sangatlah sayang jika semua yang ada kita sia-siakan. Kita bisa membuka mata dan hati kita bahwa ternyata semua itu bisa menjadi guru buat kita. Siapa pun dan di mana pun kita berada. Tidak peduli anak-anak ataupun dewasa, kaum berpunya atau pun tidak, pun bisa juga  makhluk lain selain kita. Kita bisa belajar dari semuanya, jika kita sedikit menyisakan hati buat bijaksana.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s