BERHENTI MEMBERI NASIHAT PADA ANAK (by Anik damogalad) 29 Januari 2009

Hari-hari menjelang ujian nasional sudah semakin dekat. Rasa was-was dan khawatir terus datang. Takut ini, takut itu. Apalagi melihat hasil try out siswa kelas tiga masih jauh dari melegakan. Jauh dari memuaskan. Ini yang membuat kita  sebagai orang tua terus gelisah.

 

Stop, sudah bukan saatnya kita terus-terusan memberi nasihat pada anak kita. Bukannya tidak sayang, hanya saja nasihat yang berlebihan justru akan membuat si anak jenuh. Jika hal itu terjadi, maka sesuatu yang kita inginkan bukan malah terpenuhi tetapi akan sebaliknya. Hasilnya akan mengecewakan, jauh dari apa yang kita harapkan.

 

Nasihat yang terus-menerus, monoton dan itu-itu saja bisa jadi membuatnya muak. Anak kita bukannya terus belajar rajin seperti yang kita inginkan, akan tetapi malah justru semakin menghindar dari kegiatan yang seharusnya dia jalani.

 

Kita tidak perlu lagi ngomel-ngomel, kamu harus ini, kamu mesti itu, serba ini-serba itu, dilarang ini, dilarang itu. Percaya atau tidak, justru ia tidak akan lagi mendengarkan apa yang kita nesihatkan, malah sebaliknya mereka menjadi cuek. Bukankah tindakan dan sikap mereka akan menambah rasa sakit hati kita sebagi orang tua?

 

Cukuplah sekali kita memberi nasihat kepada mereka, tak perlu berulang kali, dengan alasan kawatir atau sayang pada mereka. Nasihat sekali dengan nada yang sungguh-sungguh akan lebih terkesan dan mengena dari pada nasihat berjuta kali tapi dengan nada memaksa.

 

Berikan nasihat dengan penuh rasa peduli dan cinta. Sikap itu bisa kita tunjukkan kepada mereka bahwa sebenarnya kita terlalu sayang dan menaruh harapan besar kepada mereka, menyadarkan mereka bahwa sebenarnya ia punya tanggung jawab yang besar, yaitu belajar dan lulus ujian nasional.

 

Berikan alasan mengapa ia harus bertindak dan belajar rajin. Beritahu juga bahwa itu semua untuk masa depan serta kehidupannya kelak agar lebih baik. Berikan pandangan pula bahwa kebanggan mereka merupakan kebanggan orang tua juga.

 

Itu semua kita lakukan jangan berlebihan. Cukup sekali saja, tetapi dengan sungguh-sungguh. Ingat, itu akan lebih berarti dari pada sering tetapi hanya menguap saja seperti angin.

Anak kita adalah kabanggan kita.

 

Semoga bermanfaat bagi kita. 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s