KONSEKUEN (by Anik Damogalad)

Seringkali kita menyuruh anak dengan ini itu dengan nada perintah bahkan tanpa kita sadari dengan sedikit memaksa. Itu kita lakukan bisa tanpa atau dengan kesadaran penuh, baik kepada anak kita sendiri maupun kepada siswa di sekolah. Sebagian murid mematuhinya, akan tetapi sebagian lagi yang lain bersungut-sungut menahan rasa tidak suka bahkan enggan untuk berdiri dan melakukannya. Alih-alih beranjak berdiri, tidak bergeming sama sekali.

 

Sadarkah kita, bahwa jika kita menyuruh anak untuk melakukan sesuatu itu sama saja dengan kita menyuruh diri kita sendiri untuk melakukan sesuatu. Jadi sebelum kita menyuruh anak atau siswa untuk belajar kita pun harus melakukannya. Itu namanya konsekuen. Jadi tidak sepihak. Bila anak atau siswa kita kritis, ia akan menjawab, wah…..bapak atau ibu guru sendiri gak pernah belajar, kenapa saya harus belajar? Nah lho………….Dan hati kecil kita akan malu, (tentu saja kalau punya hati).

 

Sebaiknya bagaimana?

Ini yang harus kita lakukan. Kita harus mengubah paradigma bahwa kita sudah merasa cukup dan tidak perlu lagi belajar dengan alasan buat apa, tidak penting, dan apalagi alasannya cuman membuang-buang waktu saja. Wah……Jika demikian adanya…….Gimana ya?

 

Anak tidak akan mau begitu saja mengikuti apa yang kita inginkan. Mereka juga punya mata, hati, dan pikiran yang membuat dia tahu, kenapa dia disuruh ini, itu, sebaiknya ini dan itu. Mereka juga akan melihat bagaimana gurunya, melakukan apa, dan mengapa.

 

Contohnya, jika kita menyuruh mereka membaca, ya….kita juga harus melakukannya Bahkan memberinya contoh langsung di depannya. Guru menyuruh siswa belajar, kita pun harus belajar, apa saja bisa kita pelajari. Dan semuanya berguna buat kita, juga untuk pengembangan pribadi kita.

 

Kita menyuruh mereka untuk membuang sampah yang ada di dalam kelas dan di luar kelas, kita pun harus memungutnya juga. Dengan kata lain kita pun melakukannya. Anak menjadi tahu, bahwa guru itu konsekuen juga ya……Dan mereka pun akhirnya akan melakukan hal yang sama dengan kita. Secara otomatis kita melakukan proses pembelajaran juga. Jadi yang menjadi model pembelajaran itu sebenarnya adalah kita karena semua proses itu akan lebih mengena jika kita  sendiri yang memberikan contoh. Bukan orang lain.  

 

Kalau hal itu konsekuen kita lakukan, pasti tidak akan lagi ada omongan bahwa kita hanya bias nyuruh tanpa bias melakukan hal yang sama. Mereka akan merasa diperlakukan tidak adil. Oleh kita, gurunya sendiri.

 

Jadi, siapkah kita untuk tidak menyuruh tanpa kita berbuat hal yang sama?

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s