MENDIDIK TANPA MEMILIH (by Anik Damogalad)

Salah satu tugas guru yang paling berat mungkin bukan mengajar melainkan mendidik. Mengajar berbeda dengan mendidik. Jika mengajar, kita hanya memberikan materi pelajaran saja. Terbatas hanya menyajikan materi, menjelaskan, membuat mereka paham, dan selesai. Habis, tanpa beban.

 

 Berbeda dengan mendidik yang lebih banyak mengandalkan naluri hati dan perasaan kita sebagai orang tua mereka di sekolah. Mendidik tidak hanya membarikan materi saja, jauh lebih banyak dari itu. Banyak hal yang harus kita lakukan untuk anak didik kita. Melebihi yang kita pikirkan bahkan…

 

Di sekolah begitu banyak ragam dan karakter mereka, berlatar belakang berbeda, tidak hanya fisik tetapi juga pikiran dan kemauan mereka. Apalagi mereka berasal dari keluarga yang tidak sama dan memiliki kebiasaan yang berbeda satu dengan yang lain. Inilah yang kadang membuat kita agak repot dalam menanganinya.

 

Sebagai guru semestinyalah kita mampu menghadapi semua perbedaan itu. Bagaimana pun juga mereka di sekolah adalah anak kita sendiri. Bahkan melebihi.

 

Memahami segala perbedaan mereka merupakan langkah awal kita untuk bisa menangani berbagai masalah yang terjadi di sekolah. Hal yang paling dianggap riskan adalah faktor sosial ekonomi.

 

Seorang guru dituntut mampu mentransfer ilmu kepada siswa, kita tidak boleh membedakan bagaimana status mereka (social ekonomi), juga status-status mereka yang lain, misalnya anak pintar dan anak bodoh.  Dalam kenyataan, siswa yang kita ajar tidak hanya dari satu golongan atau kalangan saja. Beragam latar belakang kita temukan di sini. Subjektivitas individu tidak boleh diikutsertakan di sini.

 

Mendidik itu tidak boleh sambil memilih. Semua siswa berhak mendapat perlakuan yang sama. Tidak ada siswa kaya, dan tidak ada siswa yang miskin. Kita tetap harus memperlakukan mereka sama. Mereka adalah anak-anak kita yang berhak mendapat perhatian yang sama. Sangat salah jika kita membedakan apalagi mengistimewakan siswa kaya dibanding dengan yang tidak. Perlakuan yang bertolak belakang akan membuat mereka saling terpecah dan membuat kelompok-kelompok yang justru bisa memperburuk masalah.

 

Tidak saja membedakan status sosial ekonomi, membedakan apakah mereka siswa pandai atau tidak itu pun kita tidak boleh. Keberagaman itu pasti kita temukan. Sekarang tergantung bagaimana kita menyikapinya. Sebagai guru yang bijaksana sikap adil, tidak memihak, dan tidak memilih itulah yang mesti kita pegang. Jika sikap memilih tetap kita pertahankan, maka akan membuat siswa kita menjadi pribadi yang tidak bernyali serta tidak percaya diri.  Hal inilah yang kita takutkan.

 

Apa yang mesti kita lakukan?

Membuat suasana penuh kebersamaan, kekeluargaan serta kedamaian sangat diperlukan. Dengan ,menciptakan kondisi demikian, seluruh siswa akan merasa bahwa tidak ada perbedaan di antara mereka, tidak ada yang perlu ditakutkan untuk belajar bersama. Suasana yang nyaman serta kondusif akan membuat mereka betah dan nyaman di sekolah. Jika hal ini terjadi maka salah satu dari syarat belajar yang baik sudah terpenuhi, yaitu terciptanya kondisi yang menyenangkan di sekolah.

 

Kita yakin semua itu akan menjadikan proses belajar dan mengajar yang tadinya membosankan akan berbalik menjadi menyenangkan, bukan hanya bagi kita, juga buat siswa kita.

 

Semoga menjadi inspirasi bagi kita.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s