KONSEKUEN (by Anik Damogalad)

Seringkali kita menyuruh anak dengan ini itu dengan nada perintah bahkan tanpa kita sadari dengan sedikit memaksa. Itu kita lakukan bisa tanpa atau dengan kesadaran penuh, baik kepada anak kita sendiri maupun kepada siswa di sekolah. Sebagian murid mematuhinya, akan tetapi sebagian lagi yang lain bersungut-sungut menahan rasa tidak suka bahkan enggan untuk berdiri dan melakukannya. Alih-alih beranjak berdiri, tidak bergeming sama sekali.

Baca lebih lanjut

Iklan

GADIS MANIS DI VILLA 61

Jam sudah menunjukkan pukul 03.00 dini hari. Namun mata Mika tak juga terpejam. Tidurnya gelisah. Ia miringkan badannya untuk mengubah posisi tidur. Siapa tahu ia tak bisa tidur gara-gara itu. Tidak juga. Ia membolak-balikan badannya. Bayangan gadis itu terus memenuhi kepalanya. Ia tak tahu perasaan apa namanya. Yang jelas rasa itu persis sama seperti yang Mika rasakan dua tahun lalu bersama Noni. Ya, Noni yang kini sudah pergi jauh. Dan Mika tak ingin mengingatnya kembali saat-saat itu. Sangat menyakitkan hati. Bahkan janjinya, ia tak kan mau lagi mengenal gadis manapun juga.  

Baca lebih lanjut

KULIAH DI MANA? BINGUNG MILIH JURUSAN ATAU FAKULTAS? (by Anik Damogalad)

Udah kelas XII nih…..mo ujian belum siap-siap…Mesti mikirin mo kuliah di mana, ambil jurusan apa, fakultasnya apa…wuih…ribet deh ya…

Sobat DJ yang kelas XII,

 

Jika ditanya nanti mau nglanjutin di mana kalo habis SMA. Wah…susah deh ngejawabnya. Bingung and gimana…….gitu. Nggak jarang pula ortu kita ikut campur tangan  untuk urusan pilih-memilih ini. Wah…kacau deh…. Padahal yang namanya sekolah itu kan nggak main-main toh..

Baca lebih lanjut

INTROSPEKSI DIRI, BUAT APA??? (by Anik Damogalad)

Hal sepele, tapi akan sangat fatal akibatnya jika kita salah dalam menerapkan. Selama ini jarang ada yang menyadari bahwa hal yang satu itu memang sangat penting. Sepenting merawat diri sendiri barangkali.

 

Seperti kita ketahui bahwa introspeksi diri sangat diperlukan untuk beberapa hal, antara lain:

 

Memperbaiki kesalahan masa lalu

Semua manusia, siapa pun juga pasti mempunyai masa lalu. Masa lalu itu bisa dalam bentuk aneka  macam antara lain, masa lalu yang mengesankan atau baik dan masa lalu yang buruk, yang tentu saja harus kita hilangkan sehingga tidak akan membekas. Dengan introspeksi diri maka kesalahan masa lalu tidak akan kita ulangi lagi.

 

Membangkitkan kekuatan diri

Percaya diri untuk mengembangkan nilai positif kita Percayalah bahwa setiap individu itu dilahirkan dengan keunikan dan kekhasan masing-masing. Akan tetapi sangat jarang orang mau mengerti tentang semua ini. Orang akan cenderung menilai dan berpikiran bahwa ia tidak memiliki apa-apa, bahkan ia terlalu lemah untuk melakukan sesuatu.

 

Hal tersebut tidak boleh dibiarkan terus-menerus, karena sesungguhnya ia harus sadar dan bangkit bahwa ia pun memiliki kekuatan yang sama untuk meraih sesuatu.

 

Memotivasi diri untuk lebih baik

Jika sudah tahu kalau kita punya salah atau kelemahan maka, dengan introspeksi diri, melihat apa kekurangan kita, kelebihan yang kita miliki, kita akan bias memotivasi diri kita. Nah, jika motivasi sudah tumbuh dalam diri, pasti segala sesuatunya akan mudah kita jalani.

 

Bikin percaya diri

Nah, jika hasil introspeksi kita bagus, bukan tidak mungkin itu menjadikan kita makin percaya diri. Percaya diri bahwa ternyata kita punya kelebihan juga. Sama seperti yang lain. Jadi, tidak ada lagi istilah kita rendah diri. Rendah hati sih…harus. Tapi rendah diri……jangan sampai deh. / Anik

 

 

 

MENDIDIK TANPA MEMILIH (by Anik Damogalad)

Salah satu tugas guru yang paling berat mungkin bukan mengajar melainkan mendidik. Mengajar berbeda dengan mendidik. Jika mengajar, kita hanya memberikan materi pelajaran saja. Terbatas hanya menyajikan materi, menjelaskan, membuat mereka paham, dan selesai. Habis, tanpa beban.

 

 Berbeda dengan mendidik yang lebih banyak mengandalkan naluri hati dan perasaan kita sebagai orang tua mereka di sekolah. Mendidik tidak hanya membarikan materi saja, jauh lebih banyak dari itu. Banyak hal yang harus kita lakukan untuk anak didik kita. Melebihi yang kita pikirkan bahkan…

 

Di sekolah begitu banyak ragam dan karakter mereka, berlatar belakang berbeda, tidak hanya fisik tetapi juga pikiran dan kemauan mereka. Apalagi mereka berasal dari keluarga yang tidak sama dan memiliki kebiasaan yang berbeda satu dengan yang lain. Inilah yang kadang membuat kita agak repot dalam menanganinya.

 

Sebagai guru semestinyalah kita mampu menghadapi semua perbedaan itu. Bagaimana pun juga mereka di sekolah adalah anak kita sendiri. Bahkan melebihi.

 

Memahami segala perbedaan mereka merupakan langkah awal kita untuk bisa menangani berbagai masalah yang terjadi di sekolah. Hal yang paling dianggap riskan adalah faktor sosial ekonomi.

 

Seorang guru dituntut mampu mentransfer ilmu kepada siswa, kita tidak boleh membedakan bagaimana status mereka (social ekonomi), juga status-status mereka yang lain, misalnya anak pintar dan anak bodoh.  Dalam kenyataan, siswa yang kita ajar tidak hanya dari satu golongan atau kalangan saja. Beragam latar belakang kita temukan di sini. Subjektivitas individu tidak boleh diikutsertakan di sini.

 

Mendidik itu tidak boleh sambil memilih. Semua siswa berhak mendapat perlakuan yang sama. Tidak ada siswa kaya, dan tidak ada siswa yang miskin. Kita tetap harus memperlakukan mereka sama. Mereka adalah anak-anak kita yang berhak mendapat perhatian yang sama. Sangat salah jika kita membedakan apalagi mengistimewakan siswa kaya dibanding dengan yang tidak. Perlakuan yang bertolak belakang akan membuat mereka saling terpecah dan membuat kelompok-kelompok yang justru bisa memperburuk masalah.

 

Tidak saja membedakan status sosial ekonomi, membedakan apakah mereka siswa pandai atau tidak itu pun kita tidak boleh. Keberagaman itu pasti kita temukan. Sekarang tergantung bagaimana kita menyikapinya. Sebagai guru yang bijaksana sikap adil, tidak memihak, dan tidak memilih itulah yang mesti kita pegang. Jika sikap memilih tetap kita pertahankan, maka akan membuat siswa kita menjadi pribadi yang tidak bernyali serta tidak percaya diri.  Hal inilah yang kita takutkan.

 

Apa yang mesti kita lakukan?

Membuat suasana penuh kebersamaan, kekeluargaan serta kedamaian sangat diperlukan. Dengan ,menciptakan kondisi demikian, seluruh siswa akan merasa bahwa tidak ada perbedaan di antara mereka, tidak ada yang perlu ditakutkan untuk belajar bersama. Suasana yang nyaman serta kondusif akan membuat mereka betah dan nyaman di sekolah. Jika hal ini terjadi maka salah satu dari syarat belajar yang baik sudah terpenuhi, yaitu terciptanya kondisi yang menyenangkan di sekolah.

 

Kita yakin semua itu akan menjadikan proses belajar dan mengajar yang tadinya membosankan akan berbalik menjadi menyenangkan, bukan hanya bagi kita, juga buat siswa kita.

 

Semoga menjadi inspirasi bagi kita.